masalah yang hadir karena standar yang kita ciptakan sendiri !


La Tahzan… la tahzan…la tahzan Innallaha ma’ana. 

Sedih ? ya siapapun pasti pernah merasa dititik ini. Rosulullah sang kekasih Allah saja pernah merasakan hal ini kala kehilangan dua orang yang disayanginya yakni Siti Khadijah dan pamanya Abdul Mutholib yang kemudia dihibur Allah melalui peristiwa Isro’ Miraj. Teman-teman sedih itu wajar, sedih tidak tentu dapat diibaratkan dengan suatu hal yang menyakitkan, bisa jadi malah sebaliknya. Namun, sedih dalam konteks bahasan ini adalah sedih yang berakarkan suatu masalah. Jadikanlah sedihmu sebagai bunga kehidupan. Bukankah taman tanpa bunga begitu terasa gersang ?. ya seperti itulah korelasi antara masalah dan kehidupan. Masalah juga yang menjadikanya dewasa.
Berkaitan dengan sedih. Pernah suatu waktu saya membaca sebuah buku atau kalau tidak notice bahwa “masalah yang hadir karena standar yang kita ciptakan sendiri”. Bukankah itu betul ? contohnya, belum memiliki pasangan di usia yang sudah waktunya memiliki unutk sebagian orang menjadi masalah, namun untuk sebagian orang yang lain tidak begitu, karena barometer kebahagiaan orang tersebut bisa jadi tidak menjadikan ada tidaknya apsangan sebagai ukuran kebahagiaan. Hal lainya seperti tingkat kekayaan. Ada yang hidupnya serba pas-pasan, lihat lah keluarga pemulung yang hidup serba kekurangan namun tetpa bahagia dan lihat lah lawan arusnya, banyak para pejabat tinggi hidup serba bergelimangan harta, apapun serba ada namun hidupnya dirundung kesedihan tidak adanya ketenangan bahkan kekayaan yang melipah tersebut bukan apa-apa bahkan kurang dan semakin kurang hingga akhirnya terjerumus unutk berbuat yang bukan haknya.
Seperti itulah kehidupan layaknya roler coaster, penuh lika-liku. Sedih boleh namun sesuai kadarnya saja. Semua memiliki zona dan waktunya masing-masing. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. Tulisan ini saya tulis ketika saya dirundung galau heuheu… semoga menjadi obat Aamiin

Wallahu a’lam

Komentar

Postingan Populer