Budaya Muluk Dan Talaman Yang Lekang oleh Zaman
Salah satu karakteristik pesantren salaf yakni budaya “muluk”
(makan pakai tangan) bareng-bareng. Dahulu makan beralasakan daun pisang tua
yang ditata memanjang dengan tujuan agar cukup untuk makan banyak orang, saying
saat ini sudah mulai jarang ditemukan. Selain karena tujuan untuk meminimalisir
tenaga untuk mencuci dan peralatan yang mungkin saja minim, juga bertujuan
untuk mempererat ukhuwan paseduluran. Ketika duduk berdempetan dengan banyaknya
orang yang semuanya juga ingin mendapatkan makan dan ngalap barokah, maka mau
tidak mau harus siap duduk berdempetan dan didempeti teman yang lainya. Mari
kita bayangkang dengan jarak sedekat itu, apa mungkin tidak sampai ada obrolan,
bertanya nama misalnya. Budaya dipondok ketika talaman, biasanya para santri
tidak memilah harus dengan siapa dia makan dan harus bagaimana cara memakanya.
Pokok tempat dimana dia duduk, ya bersama orang yang ada disekelilingnya dia
akan makan. Disisi lain, makan bareng-bareng di talaman juga diyakini menambah
kenikmatan rasa makanan itu sendiri. Bahasa jawanya “royokan” yen ora biso
ngroyok disik yo bakal kentekan (kalau tidak bisa duluan dan cepat makanya akan
kehabisan).
Dizaman yang serba modern yang semua hal juga harus difikir secara
rasional, dunia medis yang tidak lagi sepernuhnya percaya dengan hal yang
berkaitan dengan ketidaknyataan. Sebagian dari mereka mengatakan untuk menjaga
kehigenisan maka pola makan harus di atur. Makan harus pakai sendok,
bersentuhan dengan tangan-tangan lain menyebabkan ketidak sterilan kalau
menyentuh langsung makanan. Sehingga budaya makan pakai tangan dan talam
bareng-bareng sudah jarang, bahkan tidak di perkenankan lagi dibeberapa tempat
ataupun pesantren. Makan bersama kini diartikan dengan makan pakai piring
sendiri-sendiri, hanya saja makan ditempat yang sama. Rasanya akan nikmat
sekali jika makan pakai tangan dan makanya bersama-sama sembari bercengkrama
bercerita tentang pengalaman dan masa depan.
16 Februari 2019

Komentar
Posting Komentar